Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk
Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Yang Beragam
1. Fact (Peristiwa)
Sebagai pendidik, kita tentu menyadari
bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita
sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap
anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya
masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa
selamat dan bahagia. Pemenuhan tersebut meliputi keberagaman murid,
layanan kebutuhan belajar murid, learning grap (kesenjangan belajar), dan
kaitan dengan standar Pendidikan nasional.
Setiap harinya, tanpa disadari, guru
dihadapkan pada keberagaman yang banyak sekali bentuknya, sehingga seringkali
mereka harus melakukan banyak pekerjaan atau membuat keputusan dalam satu
waktu. Misalnya, saat mengajar di kelas, seorang guru mungkin harus
membantu satu muridnya yang kesulitan, namun di saat yang sama harus mengatur
cara bagaimana agar saat ia membantu murid tersebut, kelasnya tetap dapat
berlangsung dengan kondusif. Dalam kesehariannya, guru akan senantiasa
melakukan hal ini, sehingga kemampuan untuk multitasking ini secara natural sebenarnya dimiliki oleh guru.
Kemampuan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena begitu alaminya
hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi tantangan ini.
Semua usaha tersebut tentunya dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk
memastikan setiap murid di kelasnya sukses dalam proses pembelajarannya.
Untuk memenuhi itu semua perlu adanya
pembelajaran berdiferensiasi, Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk
menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar
individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan
pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk
merespon kebutuhan belajar murid. Dalam penerapannya banyak sekali miskonsepsepsi,
melakukan pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus
mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula
berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat
bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti
guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan
yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak.
Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa
perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari
untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian
keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang
berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut
adalah yang terkait dengan:
1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran
yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas
dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan
belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk
memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu
menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta
penilaian yang berbeda.
3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan
belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk
mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di
kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang
proses belajar mereka.
4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru
menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas,
namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan
yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut
menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah
dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau
sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang
ditetapkan.
Pembelajaran
berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan
bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Kebutuhan belajar tersebut
meliputi tiga hal yaitu : Kesiapan belajar murid (readiness),minat murid, dan
profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga
memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan
diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian
berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam
mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan
didapatkan murid.
https://drive.google.com/file/d/1mfCrPiPZzPmLX2oHxx41BRPltuArPX73/view?usp=sharing
2. Feelings (Perasaan)
Dengan mempelajari pembelajaran berdiferensiasi memberikan pengalaman dan perasaan yang berbeda dalam implementasi dalam pemebelajaran. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid.
Findings (Pembelajaran)
Dengan memahami pembelajaran beridiferensiasi membuka
pemahaman bahwa murid memiliki karakter yang beragam dan perlu adanya penangan
yang beragam pula. Dalam merancang perencaan pra pembelajaran harus
memperhatikan minat dan kebutuhan belajar murid. Oleh karena itu dalam implementasinya
perlu adanya pemetaan (asesmen diagnostic) tentang kemampuan awal murid agar
dapat diketahui minat dan bakat murid.
4. Future (Penerapan)
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam menerapkan
pembelajaran berdiferensiasi seperti :
1.
Melakukan asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif
2.
Memetakan kebutuhan belajar murid, minat murid, dan profil
belajar murid
3.
Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
4.
Merancang pembelajaran yang inovatif dan memacu keaktifan
siswa
5.
Melakukan evaluasi fomatif dan sumatif
6.
Melakukan refleksi diri dalam merenungkan pembelajaran yang
akan diperbaiki dan ditingkatkan






0 komentar:
Posting Komentar