Rabu, 02 November 2022

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

 

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya


Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

 Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

·         Murid

·         Kepala Sekolah

·         Guru

·         Staf/Tenaga Kependidikan

·         Pengawas Sekolah

·         Orang Tua

·         Masyarakat sekitar sekolah

·         Dinas terkait

·         Pemerintah Daerah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:
·         Keuangan
·         Sarana dan prasarana
·      Lingkungan alam

Ekosistem  yang terdapat dilingkungan sekolah baik unsur biotik ataupun unsur abiotik merupakan sumber daya yang dapat dimaksimalkan potensinya dengan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Dalam hal ini, jika sebuah ekosistem sekolah dipandang dari kekuatan sebagai tumpuan berpikir, maka pusat perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif yang dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan potensinya. Hal ini sangat berbeda jika dalam memandang sebuah ekosistem dari sudut pandang berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian  pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi baik, buku ajar yang tidak lengkap, atau sekolah yang tidak tidak memiliki laboratorium. Kekurangan yang dimiliki  mendorong cara berpikir negatif sehingga fokus cara berpikir adalah bagaimana mengatasi semua kekurangan atau apa yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang  tidak nyaman dan curiga yang dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Green & Haines (2010) menjelaskan kecenderungan cara pandang yang menggunakan pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset seperti yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini :

Berbasis Pada

Aset/Kekuatan

Berbasis Pada

Kekurangan/Masalah/Hambatan

Fokus pada aset atau kekuatan

Fokus pada masalah dan isu

Membayangkan masa depan

Berkutat pada masalah utama

Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut

Mengidentifikasi kebutuhan dan keukarangan-selalu bertanya apa yang kurang?

Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)

Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain

Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan

Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah

Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan

Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek

 Jadi dengan berfikir berbasis pada aset maka kita akan bisa fokus pada aset atau kekuatan, sehingga bisa membayangkan masa depan, kita pun akan berfikir tentang kesuksesan yang telah diraih, dan kita akan bisa mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya dan kita akan bisa merancang rencana berdasarkan visi dan dan kekuatan serta bisa mewujudkan rencana aksi yang sudah diprogramkan.

Satuan pendidikan sebagai sebuah komunitas, mempunyai hak mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisiensi dan efektivitas penyelenggara pendidikan dapat tercapai seperti yang diisyaratkan dalam standar pengelolaan pendidikan. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dan dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi merasa tidak berdaya, pasif, dan selalu bergantung dengan pihak lain.

Pendekatan PKBA berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas, dimana selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi.  PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’, Cunningham (2012) menuliskan bahwa Community-driven Development adalah proses dimana sekelompok orang (dalam suatu kegiatan, organisasi, atau lingkungan) yang dimotivasi oleh peluang yang ada akan melakukan suatu usaha hanya dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri (minimal pada awalnya). Seorang pemimpin akan berperan sebagai fasilitator dalam menggerakkan dan memimpin komunitasnya. 


Koneksi Antar Materi

 Kihadjar Dewantara mengatakan pendidikan itu adalah kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. baik kodrat alam dan kodrat zamannya, sebagai pemimpin pembelajaran kita bisa mengelola aset sumber daya murid dengan pola asah asih asuh dengan menuntun mereka agar bisa melejitkan potensi siswa sehingga bisa mencapai kebahagiaan yang setingi-tingginya. Seorang guru yang dianalogikan sebagai seorang petani harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada berupa aset yang terdapat dalam sebuah ekosistem agar dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan berfokus pada kekuatan dan hal-hal positif.

            Sebagai guru penggerak dituntut untuk bisa mengelola potensi siswa dengan memanfaatkan aset yang terdapat dalam sebuah ekosistem. Oleh karena itu, nilai guru penggerak berupa : (1) berpihak pada murid, (2) reflektif, (3) mandiri, (4) kolaboratif, dan (5) inovatif, Serta peran guru penggerak berupa : (1) menjadi pemimpin pembelajaran, (2) menjadi coach bagi guru lain, (3) mendorong kolaborasi, (4) mewujudkan kepemimpinan murid (Student Agency), (5) menggerakkan komunitas praktisi, akan menjadi landasan dalam pengelolaan aset sekolah terutama dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
       Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Mungkin saja, sebagian orang menuliskan mimpi itu pada gambaran visinya. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan. Perlu perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Inilah salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Untuk mencapai visi tersebut perlu adanya pendekatan berbasir aset berupa paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) dimana paradigma IA ini percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan.  Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi.  Dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA.

BAGJA adalah gubahan tahapan Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan yang pertama kali diperkenalkan oleh Cooperrider ke dalam langkah 4D Discover-Dream-Design-Deliver (Cooperrider & Whitney, 2005) yang kemudian dalam praktik-praktik selanjutnya tahapan Discover dipecah menjadi Define dan Discover (Cooperrider et.al, 2008). Inilah kemudian yang menjadi langkah-langkah yang perlu Bapak/Ibu ikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang Bapak/Ibu telah impikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama (Define). Di tahap ini, Bapak/Ibu merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana (Design). Di tahapan ini, Bapak/Ibu dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver). Di bagian ini, Bapak/Ibu memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan Bapak/Ibu ajak dan pasti mau untuk terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan. Tabel berikut ini berupaya memperlihatkan rangkuman (ciri) tiap tahapan B-A-G-J-A. Dengan penerapan BAGJA merupakan bagian dari salah satu penerepan budaya positif yang menjadi pembiasan dalam menggali dan memaksimalkan aset dengan berbasis pada kekuatan.

Modul ini memberikan saya pemahaman bahwa dalam memaksimalkan suatu ekositem dalam suatu komunitas perlu adanya sudut pandang yang berbeda dari biasanya, dalam mengembangkan potensi suatu ekosistem yang biasanya memandang dari segi kelemahan dan kekurangan beralih menjadi mencari hal positif yang dari setiap potensi yang ada untuk dikembangkan. Jadi, dengan berfokus pada hal positif tidak berkutat pada masalah yang membuat fokus perhatian  tertuju pada masalah dan mengabaikan segala potensi yang ada dilingkungan sekitar yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dalam mengembangkan dan memajukan suatu komunitas dalam sebuah ekosistem.

0 komentar:

Posting Komentar