"Ambillah pelajaran dimasa lalu, jadikanlah motivasi untuk masa yang akan datang".

"Lakukan yang terbaik di semua kesempatan yang kamu miliki."

"Jangan biarkan ucapan orang lain menjatuhkan mimpimu. Bungkam mulut mereka dengan prestasimu."

"Setiap perjuangan pasti ada hasilnya. Gagal memberi pelajaran, sukses memberi kebahagiaan."

"Setiap usaha dan karyamu hari ini, bawalah dalam doa agar Tuhan menyempurnakannya."

Senin, 06 Februari 2023

Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1(Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan)

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

 Analisis hasil wawancara pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin.

1. Nama Kepsek   1 : Sujiati, S. Pd.I

    Instansi                 : SDN 48 Singkawang

    Nama Kepsek   2 : Marten, S.Th

    Instansi                : SDS Abdi Agape

    Pewawancara     : Hendra Jaya, S. Pd

 Paradigma dalam pengambilan keputusan 

1. Individu lawan kelompok (individual vs    community)

      Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu lawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Paradigma ini, bisa juga berhubungan dengan konflik antara kepentingan pribadi lawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil lawan kelompok besar.

          Hasil wawancara dengan Bu Sujiati dalam memutuskan suatu permasalahan yang mencakup kepentingan banyak orang lebih diutamakan dalam membuat suatu keputusan atau kebijakan. Meskipun dalam pengambilan keputusan ada peraturan yang dilanggar, tetapi dengan pertimbangan kepentingan bersama yang bersifat urgent maka hendaknya lebih diutamakan.

        Hasil wawancara dengan Pak Marten selaku kepala SDS Abdi Agape dalam memutuskan suatu permasalahan ditinjau dari kepentingan dan kebermanfaatan dari keputusan yang akan diambil. Dalam pengambilan keputusan peraturan yang berhubungan langsung dengan Yayasan lebih diutamakan karena suatu kewajiban menjalankan tugas yang sudah dibebankan oleh Yayasan terlepas dari keputusan itu dapat merugikan banyak pihak termasuk guru. Semua itu tidak terlepas dari Kepala Sekolah hanya sebagai penyalur keputusan yang sudah ditetapkan oleh Yayasan.

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

       Dalam paradigma ini, pilihannya adalah antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk berlaku adil dengan memperlakukan hal yang sama bagi semua orang, atau membuat pengecualian dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang.

         Hasil wawancara dengan Bu Sujiati, dalam paradigm ini pengambilan keputusan yang biasa diambil juga dengan pertimbangan rasa kemanusian. Dalam mengambil suatu keputusan meskipun dalam keputusan tersebut bertentangan dengan peraturan. Meskipun demikian, tidak semua keputusan diambil secara sepihak tentunya melibatkan banyak pihak lain yang terlibat seperti dewan guru, stakeholder, dan paguyuban kelas sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

     Hasil wawancara dengan Pak Marten, pengambilan suatu keputusan dalam paradigma ini disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan yang menjadi wewenang Kepala Sekolah. Semua tergantung dari situasi dan kondisi yang sedang terjadi, jika menyangkut sekolah dan siswa, keputusan lebih pada sisi kemanusian sementara jika menyangkut aturan Yayasan semua harus dikonsultasikan dengan pihak Yayasan.

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

         Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita harus memilih antara jujur atau setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

         Hasil wawancara dengan Bu Sujiati, dalam pengambilan keputusan berdasarkan paradigma ini dalam memberikan laporan dan keputusan, lebih menyangkut keputusan yang diambil dalam rangka melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Keputusan ini berhubungan dengan tingkat kehadiran guru dalam memenuhi absensi,pertimbangan yang diambil berdasarkan kesetian karena setiap guru memiliki masalah, yang mengganggu tingkat kehadiran dalam kegiatan disekolah seperti ada guru yang mengikuti acara keluarga, berduka, sakit, dsb. Dalam pembuatan keputusan untuk pelaporan kedinas dalam hal absensi pertimbangan diatas, dalam hal kesetian lebih ditonjolkan dalam mewujudkan keberpihakan kepada guru meskipun dalam hal ini melanggar ketentuan dan aturan yang berlaku.

    Hasil wawancara dengan Pak Marten, pengambilan keputusan berdasarkan fakta yang terjadi dikarenakan keterbatasan wewenang yang dimiliki, dalam hal ini dilema saat mengambil keputusan lebih mengutamakan kepentingan Yayasan dari keberpihakan kepada guru.

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

         Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Seringkali kita harus memilih keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini atau yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi pada hal-hal yang setiap harinya terjadi pada kita, atau pada lingkup yang lebih luas misalnya pada isu-isu dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dan lain lain.

     Hasil wawancara dengan Bu Sujiati, keputusan yang diambil mempertimbangkan resiko yang akan terjadi dalam jangka waktu yang Panjang. Dalam pengambilan keputusan ini perlu adanya keterlibatan dari dewan guru, dan jika menyangkut kepentingan murid perlu adanya keterlibatan dari orang tua dan tentunya stakeholder masyarakat juga akan dilibatkan dalam memberi masukan untuk mengambil keputusan yang terbaik.

          Hasil wawancara dengan Pak Marten, pengambilan keputusan lebih mementingkan dampak jangka panjang, pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kepentingan sekolah akan ditindak lanjuti secara indipenden dengan memperhitungkan dampak masa panjang dari keputusan yang akan diambil. Jika kepentingan berhubungan dengan kebijakan Yayasan semua keputusan berdasarkan hasil dari rapat Yayasan yang akan dijadikan keputusan.

 ðŸ‘‰Prinsip yang mendasari pengambilan keputusan

           Ketiga prinsip tersebut adalah:

1.Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

      Dari hasil wawancara dengan dua Kepala Sekolah tersebut prinsip pengambilan  keputusan masing-masing memiliki prinsip yang berbeda. Ibu Sujiati berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), sementara Pak Marten berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking).

   ðŸ‘‰ Pengambilan dan pengujian keputusan

1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

Memastikan bahwa masalah yang kita hadapi memang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan sekedar masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.

Dari hasil wawancara dengan Ibu Sujiati, meskipun keputusan yang diambil bertentangan dengan peraturan tapi dalam hal rasa peduli dan kasih sayang lebih diutamakan, berbeda halnya dengan Pak Marten yang notabene masih berada di bawah pengaruh Yayasan setiap keputusan di buat sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku meskipun keputusan tersebut dapat melukai hati orang lain.

2.    Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

Dari hasil wawancara dengan Ibu Sujiati, setiap keputusan melibatkan masukan dari dewan guru, orang tua, maupun stakeholder masyarakat sekitar sekolah dalam menemukan solusi yang relevan dengan masalah. Sementara hasil wawancara dengan Pak Marten, tergantung dari masalah jika berdasarkan wewenang sebagai kepala sekolah dalam membina melibatkan masukan dari dewan guru dan orang tua murid, sementara yang berhubungan dengan aturan Yayasan semua di serahkan kepada pihak Yayasan yang selaku pengambil keputusan mutlak.

3.    Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

      Hasil wawancara dengan kedua Kepala Sekolah tersebut, mereka sepakat bahwa fakta sangat penting dalam pengambilan keputusan agar keputusan dapat dipertanggungjawabkan.

4.    Pengujian benar atau salah

a.      Uji Legal  

       Keputusan yang harus diambil dalam situasi adalah pilihan antara mematuhi hukum atau tidak, dan keputusan ini bukan keputusan yang berhubungan dengan moral.

        Dari hasil wawancara kedua kepala sekolah memiliki pandangan yang sama, dalam pengambilan keputusan harus legal dan tidak melanggar hukum secara pidana dan perdata.

b.      Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila situasi yang dihadapi adalah dilema etika, dan tidak ada aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada pelanggaran peraturan atau kode etik di dalamnya. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

      Dalam hasil wawancara juga kedua kepala sekolah memiliki pandangan yang sama dalam hal ini tidak melanggar kode etik profesi.

c.      Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

Hasil wawancara dengan Ibu Suji, meskipun secara tertulis melanggar aturan yang sudah ditetapkan baik oleh Dinas Pendidikan dan Pemkot pada umumnya dalam hal ini cara berpikir berbasis rasa peduli lebih menonjol. Sementara Pak Marten tidak berani melanggar aturan dari ketetapan Yayasan. Dalam hal ini cara berpikir berbasis peraturan lebih dominan

d.      Uji Publikasi

  Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan menjadi viral di media sosial. Sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi publik? Coba Anda bayangkan bila hal itu terjadi. Bila Anda merasa tidak nyaman kemungkinan besar Anda sedang menghadapi benar situasi benar lawan salah atau bujukan moral.

 Hasil dari wawancara dengan Ibu Sujiati, dalam pengambilan keputusan melibatkan banyak pihak seperti dewan guru, orang tua, dan stakeholder masyarakat sekitar. Sehingga jika tersebar tidak menjadi masalah dan dapat dipertanggungjawabkan.Sementara Pak Marten dalam pengambilan keputusan kadang menjadi masalah jika keputusan tersebar, karena dalam pengambilan keputusan sebagian besar diatur Yayasan, misalnya dalam pengambilan keputusan pembayaran gaji guru dan staf, Yayasan membuat aturan 80% dari penggunaan dana BOS sementara aturan dari Pemerintah hanya boleh 50% untuk membayar gaji.

e.      Uji Panutan/Idola

Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam. Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir. Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain. Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil resiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral yaitu benar atau salah.

Dari hasil wawancara dengan Ibu Sujiati dan Pak Marten memiliki kesamaan pandangan bahwa keputusan sangat mempertimbangkan resiko yang tidak merugikan diri sendiri.

5.    Pengujian paradifma benar atau salah

        Paradigma mana yang terjadi di situasi yang sedang Anda hadapi ini? - Individu lawan kelompok (individual vs community) - Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) - Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) - Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang Anda hadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

 Ibu Sujiati lebih dominan ke rasa keadilan dan rasa kasihan (justice vs mercy), sementara Pak Marten lebih dominan ke Individu lawan kelompok (individual vs community) karena keputusan juga berada dibawah Yayasan

6.    Melakukan prinsip resolusi

       Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai? Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

   Dari hasil wawancara Ibu Sujiati berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) sementara, Pak Marten Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

7.    Investigasi opsi trilema

 Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. Itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema.

8.    Buat keputusan

      Dari hasil wawancara hasil keputusan dipikirkan dan dilaksanaan untuk mendapatkan hasil keputusan yang terbaik.

9.Lihat Kembali keputusan dan refleksikan

          Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Proses wawancara dengan Marten, S.Th 


Daftar Tugas/Checklist Refleksi Wawancara: 

 

No.

Tugas

Ada (A)/

Tidak Ada (TA)

1.

Isi: Hal-hal menarik apa yang muncul dari wawancara tersebut, pertanyaan-pertanyaan mengganjal apa yang masih ada dari hasil wawancara bila dibandingkan dengan hal-hal yang Anda pelajari seperti 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian, apa yang Anda dapatkan?

A

2.

Isi: Bagaimana hasil wawancara antara 2-3 pimpinan yang Anda wawancarai, adakah sebuah persamaan, atau perbedaan. Kira-kira ada yang menonjol dari salah satu pimpinan tersebut, mengapa, apa yang membedakan?

A

3.

Isi: Apa rencana ke depan para pimpinan dalam menjalani pengambilan keputusan yang mengandung unsur dilema etika? Bagaimana mereka bisa mengukur efektivitas pengambilan keputusan mereka?

A

4.

Isi: Bagaimana Anda sendiri akan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain? Kapan Anda akan menerapkannya?

A

5.

Teknis: Kejelasan suara/tulisan di video/blog naratif Anda, format apa yang akan gunakan, sudahkah Anda mengujinya/membacanya dan melihat hasilnya/membayangkan bila orang lain membaca tulisan Anda?

A

6.

Teknis: Durasi waktu/panjang tulisan, apakah sudah diuji untuk maksimal dan minimal waktu berbicara, atau apakah sudah ditinjau isi dan panjang tulisan Anda, dan kepadatan/intisari  materi yang Anda ingin sampaikan?

A

 

 Penulis : Hendra Jaya,S.Pd