Kamis, 17 November 2022
Kamis, 10 November 2022
Modul 2.1
Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk
Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Yang Beragam
1. Fact (Peristiwa)
Sebagai pendidik, kita tentu menyadari
bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita
sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap
anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya
masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa
selamat dan bahagia. Pemenuhan tersebut meliputi keberagaman murid,
layanan kebutuhan belajar murid, learning grap (kesenjangan belajar), dan
kaitan dengan standar Pendidikan nasional.
Setiap harinya, tanpa disadari, guru
dihadapkan pada keberagaman yang banyak sekali bentuknya, sehingga seringkali
mereka harus melakukan banyak pekerjaan atau membuat keputusan dalam satu
waktu. Misalnya, saat mengajar di kelas, seorang guru mungkin harus
membantu satu muridnya yang kesulitan, namun di saat yang sama harus mengatur
cara bagaimana agar saat ia membantu murid tersebut, kelasnya tetap dapat
berlangsung dengan kondusif. Dalam kesehariannya, guru akan senantiasa
melakukan hal ini, sehingga kemampuan untuk multitasking ini secara natural sebenarnya dimiliki oleh guru.
Kemampuan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena begitu alaminya
hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi tantangan ini.
Semua usaha tersebut tentunya dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk
memastikan setiap murid di kelasnya sukses dalam proses pembelajarannya.
Untuk memenuhi itu semua perlu adanya
pembelajaran berdiferensiasi, Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk
menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar
individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan
pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk
merespon kebutuhan belajar murid. Dalam penerapannya banyak sekali miskonsepsepsi,
melakukan pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus
mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula
berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat
bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti
guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan
yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak.
Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa
perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari
untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian
keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang
berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut
adalah yang terkait dengan:
1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran
yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas
dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan
belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk
memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu
menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta
penilaian yang berbeda.
3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan
belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk
mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di
kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang
proses belajar mereka.
4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru
menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas,
namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan
yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut
menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah
dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau
sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang
ditetapkan.
Pembelajaran
berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan
bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Kebutuhan belajar tersebut
meliputi tiga hal yaitu : Kesiapan belajar murid (readiness),minat murid, dan
profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga
memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan
diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian
berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam
mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan
didapatkan murid.
https://drive.google.com/file/d/1mfCrPiPZzPmLX2oHxx41BRPltuArPX73/view?usp=sharing
2. Feelings (Perasaan)
Dengan mempelajari pembelajaran berdiferensiasi memberikan pengalaman dan perasaan yang berbeda dalam implementasi dalam pemebelajaran. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid.
Findings (Pembelajaran)
Dengan memahami pembelajaran beridiferensiasi membuka
pemahaman bahwa murid memiliki karakter yang beragam dan perlu adanya penangan
yang beragam pula. Dalam merancang perencaan pra pembelajaran harus
memperhatikan minat dan kebutuhan belajar murid. Oleh karena itu dalam implementasinya
perlu adanya pemetaan (asesmen diagnostic) tentang kemampuan awal murid agar
dapat diketahui minat dan bakat murid.
4. Future (Penerapan)
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam menerapkan
pembelajaran berdiferensiasi seperti :
1.
Melakukan asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif
2.
Memetakan kebutuhan belajar murid, minat murid, dan profil
belajar murid
3.
Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
4.
Merancang pembelajaran yang inovatif dan memacu keaktifan
siswa
5.
Melakukan evaluasi fomatif dan sumatif
6.
Melakukan refleksi diri dalam merenungkan pembelajaran yang
akan diperbaiki dan ditingkatkan
Rabu, 02 November 2022
3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2
Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya
Ekosistem
merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup
dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang
saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.
·
Murid
· Kepala Sekolah
· Guru
· Staf/Tenaga Kependidikan
· Pengawas Sekolah
· Orang Tua
· Masyarakat sekitar sekolah
· Dinas terkait
· Pemerintah Daerah
Selain
faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga
berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya
adalah:
·
Keuangan
·
Sarana
dan prasarana
· Lingkungan
alam
Ekosistem yang terdapat dilingkungan sekolah baik unsur biotik ataupun unsur abiotik merupakan sumber daya yang dapat dimaksimalkan potensinya dengan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Dalam hal ini, jika sebuah ekosistem sekolah dipandang dari kekuatan sebagai tumpuan berpikir, maka pusat perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif yang dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan potensinya. Hal ini sangat berbeda jika dalam memandang sebuah ekosistem dari sudut pandang berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi baik, buku ajar yang tidak lengkap, atau sekolah yang tidak tidak memiliki laboratorium. Kekurangan yang dimiliki mendorong cara berpikir negatif sehingga fokus cara berpikir adalah bagaimana mengatasi semua kekurangan atau apa yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang tidak nyaman dan curiga yang dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.
Green & Haines (2010) menjelaskan kecenderungan cara pandang yang menggunakan pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset seperti yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini :|
Berbasis Pada Aset/Kekuatan |
Berbasis Pada Kekurangan/Masalah/Hambatan |
|
Fokus
pada aset atau kekuatan |
Fokus
pada masalah dan isu |
|
Membayangkan
masa depan |
Berkutat
pada masalah utama |
|
Berpikir
tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan
tersebut |
Mengidentifikasi
kebutuhan dan keukarangan-selalu bertanya apa yang kurang? |
|
Mengorganisasikan
kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan) |
Fokus
mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain |
|
Merancang
sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan |
Merancang
program atau proyek untuk menyelesaikan masalah |
|
Melaksanakan
rencana aksi yang sudah diprogramkan |
Mengatur
kelompok yang dapat melaksanakan proyek |
Jadi dengan berfikir berbasis pada aset maka kita akan bisa fokus pada aset atau kekuatan, sehingga bisa membayangkan masa depan, kita pun akan berfikir tentang kesuksesan yang telah diraih, dan kita akan bisa mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya dan kita akan bisa merancang rencana berdasarkan visi dan dan kekuatan serta bisa mewujudkan rencana aksi yang sudah diprogramkan.
Satuan pendidikan sebagai sebuah komunitas, mempunyai hak mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisiensi dan efektivitas penyelenggara pendidikan dapat tercapai seperti yang diisyaratkan dalam standar pengelolaan pendidikan. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dan dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi merasa tidak berdaya, pasif, dan selalu bergantung dengan pihak lain.
Pendekatan PKBA berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas, dimana selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’, Cunningham (2012) menuliskan bahwa Community-driven Development adalah proses dimana sekelompok orang (dalam suatu kegiatan, organisasi, atau lingkungan) yang dimotivasi oleh peluang yang ada akan melakukan suatu usaha hanya dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri (minimal pada awalnya). Seorang pemimpin akan berperan sebagai fasilitator dalam menggerakkan dan memimpin komunitasnya.
Koneksi
Antar Materi
Kihadjar Dewantara mengatakan pendidikan itu adalah kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. baik kodrat alam dan kodrat zamannya, sebagai pemimpin pembelajaran kita bisa mengelola aset sumber daya murid dengan pola asah asih asuh dengan menuntun mereka agar bisa melejitkan potensi siswa sehingga bisa mencapai kebahagiaan yang setingi-tingginya. Seorang guru yang dianalogikan sebagai seorang petani harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada berupa aset yang terdapat dalam sebuah ekosistem agar dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan berfokus pada kekuatan dan hal-hal positif.
BAGJA adalah gubahan tahapan Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan yang pertama kali diperkenalkan oleh Cooperrider ke dalam langkah 4D Discover-Dream-Design-Deliver (Cooperrider & Whitney, 2005) yang kemudian dalam praktik-praktik selanjutnya tahapan Discover dipecah menjadi Define dan Discover (Cooperrider et.al, 2008). Inilah kemudian yang menjadi langkah-langkah yang perlu Bapak/Ibu ikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang Bapak/Ibu telah impikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama (Define). Di tahap ini, Bapak/Ibu merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana (Design). Di tahapan ini, Bapak/Ibu dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver). Di bagian ini, Bapak/Ibu memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan Bapak/Ibu ajak dan pasti mau untuk terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan. Tabel berikut ini berupaya memperlihatkan rangkuman (ciri) tiap tahapan B-A-G-J-A. Dengan penerapan BAGJA merupakan bagian dari salah satu penerepan budaya positif yang menjadi pembiasan dalam menggali dan memaksimalkan aset dengan berbasis pada kekuatan.
Modul ini memberikan saya pemahaman bahwa dalam memaksimalkan suatu ekositem dalam suatu komunitas perlu adanya sudut pandang yang berbeda dari biasanya, dalam mengembangkan potensi suatu ekosistem yang biasanya memandang dari segi kelemahan dan kekurangan beralih menjadi mencari hal positif yang dari setiap potensi yang ada untuk dikembangkan. Jadi, dengan berfokus pada hal positif tidak berkutat pada masalah yang membuat fokus perhatian tertuju pada masalah dan mengabaikan segala potensi yang ada dilingkungan sekitar yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dalam mengembangkan dan memajukan suatu komunitas dalam sebuah ekosistem.
Selasa, 01 November 2022
3.2.a.6. Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.2
Hendra Jaya, S. Pd
CGP Angkatan 5
Kota Singkawang
Hasil Analisis Video Pemanfaatan Aset Dengan Pendekatan Inquri Apresiatif BAGJA
Pemanfaatan Aset
Dengan Pendekatan BAGJA
A.
Latar Belakang
Satuan pendidikan sebagai sebuah komunitas, mempunyai hak
mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisiensi dan
efektivitas penyelenggara pendidikan dapat tercapai seperti yang diisyaratkan
dalam standar pengelolaan pendidikan. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan
efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. apa yang dapat dikelola
dari sekolah Bpk/Ibu melalui pendekatan komunitas berbasis aset agar efisien
dan efektif ?. Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut
dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka
kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya
adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University, Amerika Serikat
ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki
oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari
lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman,
2010).
Pendekatan PKBA menekankan pada nilai, prinsip dan
cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada
kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh
komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta
dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan.
Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan
aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar
menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman
(2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif. Pendekatan PKBA
menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan
tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di
dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih
berkelanjutan.
Sumber daya atau aset
adalah hal yang sangat mendukung kemajuan sekolah, untuk itu saya sebagai guru
harus bisa memetakan dan mengelola aset sekolah menggunakan pendekatan Inquri
Apresiatif model BAGJA untuk menginisiasi perubahan , sehingga perlunya memaksimalkan pemanfaatan aset guna mendukung
pembelajaran di kelas.
Ruang kelas adalah ruang yang sangat berharga bagi murid karena
dalam ruangan inilah potensi anak, wellbeing anak akan terbentuk. lingkungan
fisik yaitu ruang kelas adalah aset berharga yang menjadi modal
utama yang mendukung proses pembelajaran yang menyenangkan. Ruang kelas
ibaratnya adalah komponen abiotik yang mendukung atau mempengaruhi komponen
biotik yaitu dalam hal ini siswa dan guru. Oleh karena itu, Prakarsa perubahan
yang sesuai dalam bentuk visi “ Mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan
untuk siswa”.
B.
Tujuan
Membangun koneksi dan kolaborasi, yaitu perilaku
yang mendorong perencanaan dan tindakan kolaboratif, jaringan dan hubungan yang
kuat antara penduduk, organisasi, bisnis, dan komunitas. Jika
diaplikasikan ke sekolah, maka sekolah harus mendorong perencanaan dan tindakan
dilakukan secara kolaboratif. Hubungan dan jejaring antara warga sekolah, masyarakat
sekitar, organisasi yang ada, dan aset lainnya juga harus terjalin. Membangun
dan membina hubungan antara warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru –
kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah –
murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid. Dalam hal ini tujuan
utama adalah memanfaatkan aset berupa kolaborasi dalam memaksimal potensi murid
dan melibatkan peran aktif murid dalam menerapkan Inquri Apresiatif
model BAGJA
C. Tolak Ukur
Tolak ukur dari Prakarsa Perubahan berupa terwujudnya kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar dimana siswa senang dan Bahagia dalam belajar.
D. Tindakan Yang Diterapkan
Penerapan Inkuiri Apresiatif BAGJA, yang diterapkan dengan membuat pertanyaan pemantik “Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar.
Berikut tabel Inkuiri Apresiatif BAGJA yang digunakan dalam Prakarsa perubahan meliputi:
1.
Buat pertanyaan : Guru mengajukan pertanyaan
untuk menggali informasi dari pendapat dan pengalaman pribadi. Sebelum merumuskan
pertanyaan utama dalam mewujudkan visi guru meminta pendapat para siswa tentang
penyemangat belajar.
2. Ambil pelajaran : Murid diajak untuk mengambil pelajaran kelas lain untuk menambah informasi kelas yang dapat menambah semangat belajar dalam hal ini kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar
3. Gali Mimpi : Menanyakan ke siswa , menanyakan pendapat setiap angota kelas tentang pendapat dan perasaan mereka tentang impian kelas yang nyaman dan menyenangkan, contohnya:Seperti apa kelas yang menyenangkan? bagaimana perasaan kelas yang nyaman dan menyenangkan
4. Jabarkan rencana : Murid diajak berkontribusi dalam menentukan kebutahan yang hendak dicapai dengan menampung ide/gagasan murid.
5.
Atur eksekusi :
Murid diberi kesempatan berkontribusi untuk menentukan pembagian tugas dalam
kelompok.
E. Peran seorang pemimpin
Peran seorang pemimpin pembelajar yang merencanakan, mengarahkan, dan menggerakan aset yang berupa murid itu sendiri. Melakukan kolaborasi dengan murid sebagai wujud memanfaatkan aset yang berupa faktor biotik yang dapat dimaksimalkan potensi sebagai aset yang memiliki kekuatan yang perlu dikembangkan.
F. Modal utama seorang pemimpin
Modal utama yang dimiliki guru tersebut meliputi rasa percaya pada murid dan melibatkan secara aktif dalam melakukan Prakarsa Perubahan. Pemanfaatanya menjadi seorang figure yang dapat diandalkan murah senyum, menghargai pendapat murid, membuat pertanyaan pemantik yang dapat membuat keterlibatan murid secara akti dalam berpendapat.











-page-0.png)
