"Ambillah pelajaran dimasa lalu, jadikanlah motivasi untuk masa yang akan datang".

"Lakukan yang terbaik di semua kesempatan yang kamu miliki."

"Jangan biarkan ucapan orang lain menjatuhkan mimpimu. Bungkam mulut mereka dengan prestasimu."

"Setiap perjuangan pasti ada hasilnya. Gagal memberi pelajaran, sukses memberi kebahagiaan."

"Setiap usaha dan karyamu hari ini, bawalah dalam doa agar Tuhan menyempurnakannya."

Kamis, 17 November 2022

3.3.a.6. Demonstrasi Kontekstual-Hendra Jaya-CGP Angkatan 5


Kamis, 10 November 2022

Modul 2.1

 

            Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Yang Beragam

1.    Fact (Peristiwa)

          Sebagai pendidik, kita tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia. Pemenuhan tersebut meliputi keberagaman murid, layanan kebutuhan belajar murid, learning grap (kesenjangan belajar), dan kaitan dengan standar Pendidikan nasional.

          Setiap harinya, tanpa disadari, guru dihadapkan pada keberagaman yang banyak sekali bentuknya, sehingga seringkali mereka harus melakukan banyak pekerjaan atau membuat keputusan dalam satu waktu.  Misalnya, saat mengajar di kelas, seorang guru mungkin harus membantu satu muridnya yang kesulitan, namun di saat yang sama harus mengatur cara bagaimana agar saat ia membantu murid tersebut, kelasnya tetap dapat berlangsung dengan kondusif. Dalam kesehariannya, guru akan senantiasa melakukan hal ini, sehingga kemampuan untuk multitasking ini secara natural sebenarnya dimiliki oleh guru. Kemampuan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena begitu alaminya hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi tantangan ini. Semua usaha tersebut tentunya dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk memastikan setiap murid di kelasnya  sukses dalam proses pembelajarannya. 

          Untuk memenuhi itu semua perlu adanya pembelajaran berdiferensiasi, Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. Dalam penerapannya banyak sekali miskonsepsepsi, melakukan pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan.

          Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1.      Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

2.      Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

3.      Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka.

4.  Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

5.      Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Kebutuhan belajar tersebut meliputi tiga hal yaitu : Kesiapan belajar murid (readiness),minat murid, dan profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.

https://drive.google.com/file/d/1mfCrPiPZzPmLX2oHxx41BRPltuArPX73/view?usp=sharing

2.    Feelings (Perasaan)

               Dengan mempelajari pembelajaran berdiferensiasi memberikan pengalaman dan perasaan yang berbeda dalam implementasi dalam pemebelajaran. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid.

     Findings (Pembelajaran)

          Dengan memahami pembelajaran beridiferensiasi membuka pemahaman bahwa murid memiliki karakter yang beragam dan perlu adanya penangan yang beragam pula. Dalam merancang perencaan pra pembelajaran harus memperhatikan minat dan kebutuhan belajar murid. Oleh karena itu dalam implementasinya perlu adanya pemetaan (asesmen diagnostic) tentang kemampuan awal murid agar dapat diketahui minat dan bakat murid.

4.    Future (Penerapan)

          Banyak cara yang dapat dilakukan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi seperti :

1.      Melakukan asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif

2.      Memetakan kebutuhan belajar murid, minat murid, dan profil belajar murid

3.      Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan

4.      Merancang pembelajaran yang inovatif dan memacu keaktifan siswa

5.      Melakukan evaluasi fomatif dan sumatif

6.      Melakukan refleksi diri dalam merenungkan pembelajaran yang akan diperbaiki dan ditingkatkan

 

 

 


Rabu, 02 November 2022

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

 

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya


Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

 Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

·         Murid

·         Kepala Sekolah

·         Guru

·         Staf/Tenaga Kependidikan

·         Pengawas Sekolah

·         Orang Tua

·         Masyarakat sekitar sekolah

·         Dinas terkait

·         Pemerintah Daerah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:
·         Keuangan
·         Sarana dan prasarana
·      Lingkungan alam

Ekosistem  yang terdapat dilingkungan sekolah baik unsur biotik ataupun unsur abiotik merupakan sumber daya yang dapat dimaksimalkan potensinya dengan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Dalam hal ini, jika sebuah ekosistem sekolah dipandang dari kekuatan sebagai tumpuan berpikir, maka pusat perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif yang dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan potensinya. Hal ini sangat berbeda jika dalam memandang sebuah ekosistem dari sudut pandang berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian  pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi baik, buku ajar yang tidak lengkap, atau sekolah yang tidak tidak memiliki laboratorium. Kekurangan yang dimiliki  mendorong cara berpikir negatif sehingga fokus cara berpikir adalah bagaimana mengatasi semua kekurangan atau apa yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang  tidak nyaman dan curiga yang dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Green & Haines (2010) menjelaskan kecenderungan cara pandang yang menggunakan pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset seperti yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini :

Berbasis Pada

Aset/Kekuatan

Berbasis Pada

Kekurangan/Masalah/Hambatan

Fokus pada aset atau kekuatan

Fokus pada masalah dan isu

Membayangkan masa depan

Berkutat pada masalah utama

Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut

Mengidentifikasi kebutuhan dan keukarangan-selalu bertanya apa yang kurang?

Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)

Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain

Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan

Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah

Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan

Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek

 Jadi dengan berfikir berbasis pada aset maka kita akan bisa fokus pada aset atau kekuatan, sehingga bisa membayangkan masa depan, kita pun akan berfikir tentang kesuksesan yang telah diraih, dan kita akan bisa mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya dan kita akan bisa merancang rencana berdasarkan visi dan dan kekuatan serta bisa mewujudkan rencana aksi yang sudah diprogramkan.

Satuan pendidikan sebagai sebuah komunitas, mempunyai hak mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisiensi dan efektivitas penyelenggara pendidikan dapat tercapai seperti yang diisyaratkan dalam standar pengelolaan pendidikan. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dan dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi merasa tidak berdaya, pasif, dan selalu bergantung dengan pihak lain.

Pendekatan PKBA berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas, dimana selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi.  PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’, Cunningham (2012) menuliskan bahwa Community-driven Development adalah proses dimana sekelompok orang (dalam suatu kegiatan, organisasi, atau lingkungan) yang dimotivasi oleh peluang yang ada akan melakukan suatu usaha hanya dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri (minimal pada awalnya). Seorang pemimpin akan berperan sebagai fasilitator dalam menggerakkan dan memimpin komunitasnya. 


Koneksi Antar Materi

 Kihadjar Dewantara mengatakan pendidikan itu adalah kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. baik kodrat alam dan kodrat zamannya, sebagai pemimpin pembelajaran kita bisa mengelola aset sumber daya murid dengan pola asah asih asuh dengan menuntun mereka agar bisa melejitkan potensi siswa sehingga bisa mencapai kebahagiaan yang setingi-tingginya. Seorang guru yang dianalogikan sebagai seorang petani harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada berupa aset yang terdapat dalam sebuah ekosistem agar dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan berfokus pada kekuatan dan hal-hal positif.

            Sebagai guru penggerak dituntut untuk bisa mengelola potensi siswa dengan memanfaatkan aset yang terdapat dalam sebuah ekosistem. Oleh karena itu, nilai guru penggerak berupa : (1) berpihak pada murid, (2) reflektif, (3) mandiri, (4) kolaboratif, dan (5) inovatif, Serta peran guru penggerak berupa : (1) menjadi pemimpin pembelajaran, (2) menjadi coach bagi guru lain, (3) mendorong kolaborasi, (4) mewujudkan kepemimpinan murid (Student Agency), (5) menggerakkan komunitas praktisi, akan menjadi landasan dalam pengelolaan aset sekolah terutama dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
       Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Mungkin saja, sebagian orang menuliskan mimpi itu pada gambaran visinya. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan. Perlu perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Inilah salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Untuk mencapai visi tersebut perlu adanya pendekatan berbasir aset berupa paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) dimana paradigma IA ini percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan.  Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi.  Dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA.

BAGJA adalah gubahan tahapan Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan yang pertama kali diperkenalkan oleh Cooperrider ke dalam langkah 4D Discover-Dream-Design-Deliver (Cooperrider & Whitney, 2005) yang kemudian dalam praktik-praktik selanjutnya tahapan Discover dipecah menjadi Define dan Discover (Cooperrider et.al, 2008). Inilah kemudian yang menjadi langkah-langkah yang perlu Bapak/Ibu ikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang Bapak/Ibu telah impikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama (Define). Di tahap ini, Bapak/Ibu merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana (Design). Di tahapan ini, Bapak/Ibu dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver). Di bagian ini, Bapak/Ibu memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan Bapak/Ibu ajak dan pasti mau untuk terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan. Tabel berikut ini berupaya memperlihatkan rangkuman (ciri) tiap tahapan B-A-G-J-A. Dengan penerapan BAGJA merupakan bagian dari salah satu penerepan budaya positif yang menjadi pembiasan dalam menggali dan memaksimalkan aset dengan berbasis pada kekuatan.

Modul ini memberikan saya pemahaman bahwa dalam memaksimalkan suatu ekositem dalam suatu komunitas perlu adanya sudut pandang yang berbeda dari biasanya, dalam mengembangkan potensi suatu ekosistem yang biasanya memandang dari segi kelemahan dan kekurangan beralih menjadi mencari hal positif yang dari setiap potensi yang ada untuk dikembangkan. Jadi, dengan berfokus pada hal positif tidak berkutat pada masalah yang membuat fokus perhatian  tertuju pada masalah dan mengabaikan segala potensi yang ada dilingkungan sekitar yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dalam mengembangkan dan memajukan suatu komunitas dalam sebuah ekosistem.

Selasa, 01 November 2022

3.2.a.6. Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.2

Hendra Jaya, S. Pd

CGP Angkatan 5 Kota Singkawang

Hasil Analisis Video Pemanfaatan Aset Dengan Pendekatan Inquri Apresiatif BAGJA

 

Pemanfaatan Aset Dengan Pendekatan BAGJA

A.         Latar Belakang

Satuan pendidikan sebagai sebuah komunitas, mempunyai hak mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisiensi dan efektivitas penyelenggara pendidikan dapat tercapai seperti yang diisyaratkan dalam standar pengelolaan pendidikan. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. apa yang dapat dikelola dari sekolah Bpk/Ibu melalui pendekatan komunitas berbasis aset agar efisien dan efektif ?. Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University, Amerika Serikat ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010). 

Pendekatan PKBA menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif. Pendekatan PKBA menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.

 Sumber daya atau aset adalah hal yang sangat mendukung kemajuan sekolah, untuk itu saya sebagai guru harus bisa memetakan dan mengelola aset sekolah menggunakan pendekatan Inquri Apresiatif model BAGJA untuk menginisiasi perubahan , sehingga perlunya  memaksimalkan pemanfaatan aset guna mendukung pembelajaran di kelas.

Ruang kelas adalah ruang yang sangat berharga bagi murid karena dalam ruangan inilah potensi anak, wellbeing anak akan terbentuk. lingkungan fisik yaitu ruang kelas adalah aset berharga yang menjadi modal utama yang mendukung proses pembelajaran yang menyenangkan. Ruang kelas ibaratnya adalah komponen abiotik yang mendukung atau mempengaruhi komponen biotik yaitu dalam hal ini siswa dan guru. Oleh karena itu, Prakarsa perubahan yang sesuai dalam bentuk visi “ Mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk siswa”.

B.        Tujuan

Membangun koneksi dan kolaborasi, yaitu perilaku yang mendorong perencanaan dan tindakan kolaboratif, jaringan dan hubungan yang kuat antara penduduk, organisasi, bisnis, dan komunitas.  Jika diaplikasikan ke sekolah, maka sekolah harus mendorong perencanaan dan tindakan dilakukan secara kolaboratif. Hubungan dan jejaring antara warga sekolah, masyarakat sekitar, organisasi yang ada, dan aset lainnya juga harus terjalin. Membangun dan membina hubungan antara warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid. Dalam hal ini tujuan utama adalah memanfaatkan aset berupa kolaborasi dalam memaksimal potensi murid dan melibatkan peran aktif murid dalam menerapkan Inquri Apresiatif model BAGJA

C.         Tolak Ukur

             Tolak ukur dari Prakarsa Perubahan berupa terwujudnya kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar dimana siswa senang dan Bahagia dalam belajar.

D.         Tindakan Yang Diterapkan

         Penerapan Inkuiri Apresiatif BAGJA, yang diterapkan dengan membuat pertanyaan pemantik “Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar.

           Berikut tabel Inkuiri Apresiatif BAGJA yang digunakan dalam Prakarsa perubahan meliputi:











         Dari hasil analisis video dapat dijelaskan alur kegiatan yang diterapkan guru tersebut meliputi :

1.      Buat pertanyaan : Guru mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi dari pendapat dan pengalaman pribadi. Sebelum merumuskan pertanyaan utama dalam mewujudkan visi guru meminta pendapat para siswa tentang penyemangat belajar.

2.   Ambil pelajaran : Murid diajak untuk mengambil pelajaran kelas lain untuk menambah informasi kelas yang dapat menambah semangat belajar dalam hal ini kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar

3.      Gali Mimpi             : Menanyakan ke siswa , menanyakan pendapat setiap angota kelas tentang pendapat dan perasaan mereka tentang impian kelas yang nyaman dan menyenangkan, contohnya:Seperti apa kelas yang menyenangkan? bagaimana perasaan kelas yang nyaman dan menyenangkan

4.      Jabarkan rencana : Murid diajak berkontribusi dalam menentukan kebutahan yang hendak dicapai dengan menampung ide/gagasan murid.

5.      Atur eksekusi        : Murid diberi kesempatan berkontribusi untuk menentukan pembagian tugas dalam kelompok.

E.          Peran seorang pemimpin 

               Peran seorang pemimpin pembelajar yang merencanakan, mengarahkan, dan menggerakan aset yang berupa murid itu sendiri. Melakukan kolaborasi dengan murid sebagai wujud memanfaatkan aset yang berupa faktor biotik yang dapat dimaksimalkan potensi sebagai aset yang memiliki kekuatan yang perlu dikembangkan.

F.         Modal utama seorang pemimpin

              Modal utama yang dimiliki guru tersebut meliputi rasa percaya pada murid dan melibatkan secara aktif dalam melakukan Prakarsa Perubahan. Pemanfaatanya menjadi seorang figure yang dapat diandalkan murah senyum, menghargai pendapat murid, membuat pertanyaan pemantik yang dapat membuat keterlibatan murid secara akti dalam berpendapat.