"Ambillah pelajaran dimasa lalu, jadikanlah motivasi untuk masa yang akan datang".

"Lakukan yang terbaik di semua kesempatan yang kamu miliki."

"Jangan biarkan ucapan orang lain menjatuhkan mimpimu. Bungkam mulut mereka dengan prestasimu."

"Setiap perjuangan pasti ada hasilnya. Gagal memberi pelajaran, sukses memberi kebahagiaan."

"Setiap usaha dan karyamu hari ini, bawalah dalam doa agar Tuhan menyempurnakannya."

Senin, 06 Februari 2023

Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1(Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan)

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

 Analisis hasil wawancara pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin.

1. Nama Kepsek   1 : Sujiati, S. Pd.I

    Instansi                 : SDN 48 Singkawang

    Nama Kepsek   2 : Marten, S.Th

    Instansi                : SDS Abdi Agape

    Pewawancara     : Hendra Jaya, S. Pd

 Paradigma dalam pengambilan keputusan 

1. Individu lawan kelompok (individual vs    community)

      Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu lawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Paradigma ini, bisa juga berhubungan dengan konflik antara kepentingan pribadi lawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil lawan kelompok besar.

          Hasil wawancara dengan Bu Sujiati dalam memutuskan suatu permasalahan yang mencakup kepentingan banyak orang lebih diutamakan dalam membuat suatu keputusan atau kebijakan. Meskipun dalam pengambilan keputusan ada peraturan yang dilanggar, tetapi dengan pertimbangan kepentingan bersama yang bersifat urgent maka hendaknya lebih diutamakan.

        Hasil wawancara dengan Pak Marten selaku kepala SDS Abdi Agape dalam memutuskan suatu permasalahan ditinjau dari kepentingan dan kebermanfaatan dari keputusan yang akan diambil. Dalam pengambilan keputusan peraturan yang berhubungan langsung dengan Yayasan lebih diutamakan karena suatu kewajiban menjalankan tugas yang sudah dibebankan oleh Yayasan terlepas dari keputusan itu dapat merugikan banyak pihak termasuk guru. Semua itu tidak terlepas dari Kepala Sekolah hanya sebagai penyalur keputusan yang sudah ditetapkan oleh Yayasan.

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

       Dalam paradigma ini, pilihannya adalah antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk berlaku adil dengan memperlakukan hal yang sama bagi semua orang, atau membuat pengecualian dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang.

         Hasil wawancara dengan Bu Sujiati, dalam paradigm ini pengambilan keputusan yang biasa diambil juga dengan pertimbangan rasa kemanusian. Dalam mengambil suatu keputusan meskipun dalam keputusan tersebut bertentangan dengan peraturan. Meskipun demikian, tidak semua keputusan diambil secara sepihak tentunya melibatkan banyak pihak lain yang terlibat seperti dewan guru, stakeholder, dan paguyuban kelas sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

     Hasil wawancara dengan Pak Marten, pengambilan suatu keputusan dalam paradigma ini disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan yang menjadi wewenang Kepala Sekolah. Semua tergantung dari situasi dan kondisi yang sedang terjadi, jika menyangkut sekolah dan siswa, keputusan lebih pada sisi kemanusian sementara jika menyangkut aturan Yayasan semua harus dikonsultasikan dengan pihak Yayasan.

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

         Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita harus memilih antara jujur atau setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

         Hasil wawancara dengan Bu Sujiati, dalam pengambilan keputusan berdasarkan paradigma ini dalam memberikan laporan dan keputusan, lebih menyangkut keputusan yang diambil dalam rangka melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Keputusan ini berhubungan dengan tingkat kehadiran guru dalam memenuhi absensi,pertimbangan yang diambil berdasarkan kesetian karena setiap guru memiliki masalah, yang mengganggu tingkat kehadiran dalam kegiatan disekolah seperti ada guru yang mengikuti acara keluarga, berduka, sakit, dsb. Dalam pembuatan keputusan untuk pelaporan kedinas dalam hal absensi pertimbangan diatas, dalam hal kesetian lebih ditonjolkan dalam mewujudkan keberpihakan kepada guru meskipun dalam hal ini melanggar ketentuan dan aturan yang berlaku.

    Hasil wawancara dengan Pak Marten, pengambilan keputusan berdasarkan fakta yang terjadi dikarenakan keterbatasan wewenang yang dimiliki, dalam hal ini dilema saat mengambil keputusan lebih mengutamakan kepentingan Yayasan dari keberpihakan kepada guru.

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

         Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Seringkali kita harus memilih keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini atau yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi pada hal-hal yang setiap harinya terjadi pada kita, atau pada lingkup yang lebih luas misalnya pada isu-isu dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dan lain lain.

     Hasil wawancara dengan Bu Sujiati, keputusan yang diambil mempertimbangkan resiko yang akan terjadi dalam jangka waktu yang Panjang. Dalam pengambilan keputusan ini perlu adanya keterlibatan dari dewan guru, dan jika menyangkut kepentingan murid perlu adanya keterlibatan dari orang tua dan tentunya stakeholder masyarakat juga akan dilibatkan dalam memberi masukan untuk mengambil keputusan yang terbaik.

          Hasil wawancara dengan Pak Marten, pengambilan keputusan lebih mementingkan dampak jangka panjang, pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kepentingan sekolah akan ditindak lanjuti secara indipenden dengan memperhitungkan dampak masa panjang dari keputusan yang akan diambil. Jika kepentingan berhubungan dengan kebijakan Yayasan semua keputusan berdasarkan hasil dari rapat Yayasan yang akan dijadikan keputusan.

 ðŸ‘‰Prinsip yang mendasari pengambilan keputusan

           Ketiga prinsip tersebut adalah:

1.Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

      Dari hasil wawancara dengan dua Kepala Sekolah tersebut prinsip pengambilan  keputusan masing-masing memiliki prinsip yang berbeda. Ibu Sujiati berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), sementara Pak Marten berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking).

   ðŸ‘‰ Pengambilan dan pengujian keputusan

1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

Memastikan bahwa masalah yang kita hadapi memang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan sekedar masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.

Dari hasil wawancara dengan Ibu Sujiati, meskipun keputusan yang diambil bertentangan dengan peraturan tapi dalam hal rasa peduli dan kasih sayang lebih diutamakan, berbeda halnya dengan Pak Marten yang notabene masih berada di bawah pengaruh Yayasan setiap keputusan di buat sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku meskipun keputusan tersebut dapat melukai hati orang lain.

2.    Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

Dari hasil wawancara dengan Ibu Sujiati, setiap keputusan melibatkan masukan dari dewan guru, orang tua, maupun stakeholder masyarakat sekitar sekolah dalam menemukan solusi yang relevan dengan masalah. Sementara hasil wawancara dengan Pak Marten, tergantung dari masalah jika berdasarkan wewenang sebagai kepala sekolah dalam membina melibatkan masukan dari dewan guru dan orang tua murid, sementara yang berhubungan dengan aturan Yayasan semua di serahkan kepada pihak Yayasan yang selaku pengambil keputusan mutlak.

3.    Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

      Hasil wawancara dengan kedua Kepala Sekolah tersebut, mereka sepakat bahwa fakta sangat penting dalam pengambilan keputusan agar keputusan dapat dipertanggungjawabkan.

4.    Pengujian benar atau salah

a.      Uji Legal  

       Keputusan yang harus diambil dalam situasi adalah pilihan antara mematuhi hukum atau tidak, dan keputusan ini bukan keputusan yang berhubungan dengan moral.

        Dari hasil wawancara kedua kepala sekolah memiliki pandangan yang sama, dalam pengambilan keputusan harus legal dan tidak melanggar hukum secara pidana dan perdata.

b.      Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila situasi yang dihadapi adalah dilema etika, dan tidak ada aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada pelanggaran peraturan atau kode etik di dalamnya. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

      Dalam hasil wawancara juga kedua kepala sekolah memiliki pandangan yang sama dalam hal ini tidak melanggar kode etik profesi.

c.      Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

Hasil wawancara dengan Ibu Suji, meskipun secara tertulis melanggar aturan yang sudah ditetapkan baik oleh Dinas Pendidikan dan Pemkot pada umumnya dalam hal ini cara berpikir berbasis rasa peduli lebih menonjol. Sementara Pak Marten tidak berani melanggar aturan dari ketetapan Yayasan. Dalam hal ini cara berpikir berbasis peraturan lebih dominan

d.      Uji Publikasi

  Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan menjadi viral di media sosial. Sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi publik? Coba Anda bayangkan bila hal itu terjadi. Bila Anda merasa tidak nyaman kemungkinan besar Anda sedang menghadapi benar situasi benar lawan salah atau bujukan moral.

 Hasil dari wawancara dengan Ibu Sujiati, dalam pengambilan keputusan melibatkan banyak pihak seperti dewan guru, orang tua, dan stakeholder masyarakat sekitar. Sehingga jika tersebar tidak menjadi masalah dan dapat dipertanggungjawabkan.Sementara Pak Marten dalam pengambilan keputusan kadang menjadi masalah jika keputusan tersebar, karena dalam pengambilan keputusan sebagian besar diatur Yayasan, misalnya dalam pengambilan keputusan pembayaran gaji guru dan staf, Yayasan membuat aturan 80% dari penggunaan dana BOS sementara aturan dari Pemerintah hanya boleh 50% untuk membayar gaji.

e.      Uji Panutan/Idola

Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam. Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir. Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain. Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil resiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral yaitu benar atau salah.

Dari hasil wawancara dengan Ibu Sujiati dan Pak Marten memiliki kesamaan pandangan bahwa keputusan sangat mempertimbangkan resiko yang tidak merugikan diri sendiri.

5.    Pengujian paradifma benar atau salah

        Paradigma mana yang terjadi di situasi yang sedang Anda hadapi ini? - Individu lawan kelompok (individual vs community) - Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) - Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) - Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang Anda hadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

 Ibu Sujiati lebih dominan ke rasa keadilan dan rasa kasihan (justice vs mercy), sementara Pak Marten lebih dominan ke Individu lawan kelompok (individual vs community) karena keputusan juga berada dibawah Yayasan

6.    Melakukan prinsip resolusi

       Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai? Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

   Dari hasil wawancara Ibu Sujiati berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) sementara, Pak Marten Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

7.    Investigasi opsi trilema

 Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. Itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema.

8.    Buat keputusan

      Dari hasil wawancara hasil keputusan dipikirkan dan dilaksanaan untuk mendapatkan hasil keputusan yang terbaik.

9.Lihat Kembali keputusan dan refleksikan

          Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Proses wawancara dengan Marten, S.Th 


Daftar Tugas/Checklist Refleksi Wawancara: 

 

No.

Tugas

Ada (A)/

Tidak Ada (TA)

1.

Isi: Hal-hal menarik apa yang muncul dari wawancara tersebut, pertanyaan-pertanyaan mengganjal apa yang masih ada dari hasil wawancara bila dibandingkan dengan hal-hal yang Anda pelajari seperti 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian, apa yang Anda dapatkan?

A

2.

Isi: Bagaimana hasil wawancara antara 2-3 pimpinan yang Anda wawancarai, adakah sebuah persamaan, atau perbedaan. Kira-kira ada yang menonjol dari salah satu pimpinan tersebut, mengapa, apa yang membedakan?

A

3.

Isi: Apa rencana ke depan para pimpinan dalam menjalani pengambilan keputusan yang mengandung unsur dilema etika? Bagaimana mereka bisa mengukur efektivitas pengambilan keputusan mereka?

A

4.

Isi: Bagaimana Anda sendiri akan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain? Kapan Anda akan menerapkannya?

A

5.

Teknis: Kejelasan suara/tulisan di video/blog naratif Anda, format apa yang akan gunakan, sudahkah Anda mengujinya/membacanya dan melihat hasilnya/membayangkan bila orang lain membaca tulisan Anda?

A

6.

Teknis: Durasi waktu/panjang tulisan, apakah sudah diuji untuk maksimal dan minimal waktu berbicara, atau apakah sudah ditinjau isi dan panjang tulisan Anda, dan kepadatan/intisari  materi yang Anda ingin sampaikan?

A

 

 Penulis : Hendra Jaya,S.Pd

 

Kamis, 17 November 2022

3.3.a.6. Demonstrasi Kontekstual-Hendra Jaya-CGP Angkatan 5


Kamis, 10 November 2022

Modul 2.1

 

            Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Yang Beragam

1.    Fact (Peristiwa)

          Sebagai pendidik, kita tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia. Pemenuhan tersebut meliputi keberagaman murid, layanan kebutuhan belajar murid, learning grap (kesenjangan belajar), dan kaitan dengan standar Pendidikan nasional.

          Setiap harinya, tanpa disadari, guru dihadapkan pada keberagaman yang banyak sekali bentuknya, sehingga seringkali mereka harus melakukan banyak pekerjaan atau membuat keputusan dalam satu waktu.  Misalnya, saat mengajar di kelas, seorang guru mungkin harus membantu satu muridnya yang kesulitan, namun di saat yang sama harus mengatur cara bagaimana agar saat ia membantu murid tersebut, kelasnya tetap dapat berlangsung dengan kondusif. Dalam kesehariannya, guru akan senantiasa melakukan hal ini, sehingga kemampuan untuk multitasking ini secara natural sebenarnya dimiliki oleh guru. Kemampuan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena begitu alaminya hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi tantangan ini. Semua usaha tersebut tentunya dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk memastikan setiap murid di kelasnya  sukses dalam proses pembelajarannya. 

          Untuk memenuhi itu semua perlu adanya pembelajaran berdiferensiasi, Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. Dalam penerapannya banyak sekali miskonsepsepsi, melakukan pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan.

          Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1.      Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

2.      Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

3.      Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka.

4.  Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

5.      Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Kebutuhan belajar tersebut meliputi tiga hal yaitu : Kesiapan belajar murid (readiness),minat murid, dan profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.

https://drive.google.com/file/d/1mfCrPiPZzPmLX2oHxx41BRPltuArPX73/view?usp=sharing

2.    Feelings (Perasaan)

               Dengan mempelajari pembelajaran berdiferensiasi memberikan pengalaman dan perasaan yang berbeda dalam implementasi dalam pemebelajaran. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid.

     Findings (Pembelajaran)

          Dengan memahami pembelajaran beridiferensiasi membuka pemahaman bahwa murid memiliki karakter yang beragam dan perlu adanya penangan yang beragam pula. Dalam merancang perencaan pra pembelajaran harus memperhatikan minat dan kebutuhan belajar murid. Oleh karena itu dalam implementasinya perlu adanya pemetaan (asesmen diagnostic) tentang kemampuan awal murid agar dapat diketahui minat dan bakat murid.

4.    Future (Penerapan)

          Banyak cara yang dapat dilakukan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi seperti :

1.      Melakukan asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif

2.      Memetakan kebutuhan belajar murid, minat murid, dan profil belajar murid

3.      Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan

4.      Merancang pembelajaran yang inovatif dan memacu keaktifan siswa

5.      Melakukan evaluasi fomatif dan sumatif

6.      Melakukan refleksi diri dalam merenungkan pembelajaran yang akan diperbaiki dan ditingkatkan

 

 

 


Rabu, 02 November 2022

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

 

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya


Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

 Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

·         Murid

·         Kepala Sekolah

·         Guru

·         Staf/Tenaga Kependidikan

·         Pengawas Sekolah

·         Orang Tua

·         Masyarakat sekitar sekolah

·         Dinas terkait

·         Pemerintah Daerah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:
·         Keuangan
·         Sarana dan prasarana
·      Lingkungan alam

Ekosistem  yang terdapat dilingkungan sekolah baik unsur biotik ataupun unsur abiotik merupakan sumber daya yang dapat dimaksimalkan potensinya dengan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Dalam hal ini, jika sebuah ekosistem sekolah dipandang dari kekuatan sebagai tumpuan berpikir, maka pusat perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif yang dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan potensinya. Hal ini sangat berbeda jika dalam memandang sebuah ekosistem dari sudut pandang berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian  pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi baik, buku ajar yang tidak lengkap, atau sekolah yang tidak tidak memiliki laboratorium. Kekurangan yang dimiliki  mendorong cara berpikir negatif sehingga fokus cara berpikir adalah bagaimana mengatasi semua kekurangan atau apa yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang  tidak nyaman dan curiga yang dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Green & Haines (2010) menjelaskan kecenderungan cara pandang yang menggunakan pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset seperti yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini :

Berbasis Pada

Aset/Kekuatan

Berbasis Pada

Kekurangan/Masalah/Hambatan

Fokus pada aset atau kekuatan

Fokus pada masalah dan isu

Membayangkan masa depan

Berkutat pada masalah utama

Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut

Mengidentifikasi kebutuhan dan keukarangan-selalu bertanya apa yang kurang?

Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)

Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain

Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan

Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah

Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan

Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek

 Jadi dengan berfikir berbasis pada aset maka kita akan bisa fokus pada aset atau kekuatan, sehingga bisa membayangkan masa depan, kita pun akan berfikir tentang kesuksesan yang telah diraih, dan kita akan bisa mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya dan kita akan bisa merancang rencana berdasarkan visi dan dan kekuatan serta bisa mewujudkan rencana aksi yang sudah diprogramkan.

Satuan pendidikan sebagai sebuah komunitas, mempunyai hak mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisiensi dan efektivitas penyelenggara pendidikan dapat tercapai seperti yang diisyaratkan dalam standar pengelolaan pendidikan. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dan dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi merasa tidak berdaya, pasif, dan selalu bergantung dengan pihak lain.

Pendekatan PKBA berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas, dimana selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi.  PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’, Cunningham (2012) menuliskan bahwa Community-driven Development adalah proses dimana sekelompok orang (dalam suatu kegiatan, organisasi, atau lingkungan) yang dimotivasi oleh peluang yang ada akan melakukan suatu usaha hanya dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri (minimal pada awalnya). Seorang pemimpin akan berperan sebagai fasilitator dalam menggerakkan dan memimpin komunitasnya. 


Koneksi Antar Materi

 Kihadjar Dewantara mengatakan pendidikan itu adalah kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. baik kodrat alam dan kodrat zamannya, sebagai pemimpin pembelajaran kita bisa mengelola aset sumber daya murid dengan pola asah asih asuh dengan menuntun mereka agar bisa melejitkan potensi siswa sehingga bisa mencapai kebahagiaan yang setingi-tingginya. Seorang guru yang dianalogikan sebagai seorang petani harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada berupa aset yang terdapat dalam sebuah ekosistem agar dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan berfokus pada kekuatan dan hal-hal positif.

            Sebagai guru penggerak dituntut untuk bisa mengelola potensi siswa dengan memanfaatkan aset yang terdapat dalam sebuah ekosistem. Oleh karena itu, nilai guru penggerak berupa : (1) berpihak pada murid, (2) reflektif, (3) mandiri, (4) kolaboratif, dan (5) inovatif, Serta peran guru penggerak berupa : (1) menjadi pemimpin pembelajaran, (2) menjadi coach bagi guru lain, (3) mendorong kolaborasi, (4) mewujudkan kepemimpinan murid (Student Agency), (5) menggerakkan komunitas praktisi, akan menjadi landasan dalam pengelolaan aset sekolah terutama dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
       Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Mungkin saja, sebagian orang menuliskan mimpi itu pada gambaran visinya. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan. Perlu perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Inilah salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Untuk mencapai visi tersebut perlu adanya pendekatan berbasir aset berupa paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) dimana paradigma IA ini percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan.  Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi.  Dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA.

BAGJA adalah gubahan tahapan Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan yang pertama kali diperkenalkan oleh Cooperrider ke dalam langkah 4D Discover-Dream-Design-Deliver (Cooperrider & Whitney, 2005) yang kemudian dalam praktik-praktik selanjutnya tahapan Discover dipecah menjadi Define dan Discover (Cooperrider et.al, 2008). Inilah kemudian yang menjadi langkah-langkah yang perlu Bapak/Ibu ikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang Bapak/Ibu telah impikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama (Define). Di tahap ini, Bapak/Ibu merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream). Pada tahapan ini, Bapak/Ibu dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana (Design). Di tahapan ini, Bapak/Ibu dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver). Di bagian ini, Bapak/Ibu memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan Bapak/Ibu ajak dan pasti mau untuk terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan. Tabel berikut ini berupaya memperlihatkan rangkuman (ciri) tiap tahapan B-A-G-J-A. Dengan penerapan BAGJA merupakan bagian dari salah satu penerepan budaya positif yang menjadi pembiasan dalam menggali dan memaksimalkan aset dengan berbasis pada kekuatan.

Modul ini memberikan saya pemahaman bahwa dalam memaksimalkan suatu ekositem dalam suatu komunitas perlu adanya sudut pandang yang berbeda dari biasanya, dalam mengembangkan potensi suatu ekosistem yang biasanya memandang dari segi kelemahan dan kekurangan beralih menjadi mencari hal positif yang dari setiap potensi yang ada untuk dikembangkan. Jadi, dengan berfokus pada hal positif tidak berkutat pada masalah yang membuat fokus perhatian  tertuju pada masalah dan mengabaikan segala potensi yang ada dilingkungan sekitar yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dalam mengembangkan dan memajukan suatu komunitas dalam sebuah ekosistem.